“Semua mata pasti akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga mata: mata yang bangun malam di jalan Allah, mata yang menangis karena takut kepada-Nya dan mata yang tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah”.

Selasa, 16 Agustus 2011

Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi

Berhubung sekarang HUT RI
(ke-66). Jadi saya akan
membahas tentang 'Detik-detik
Pembacaan Naskah Proklamasi'


Perundingan antara golongan
muda dan golongan tua dalam
penyusunan teks Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia
berlangsung pukul 02.00 - 04.00
dini hari. Teks proklamasi ditulis
di ruang makan di laksamana
Tadashi Maeda Jln Imam Bonjol
No 1. Para penyusun teks
proklamasi itu adalah Ir.
Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr.
Ahmad Soebarjo. Konsep teks
proklamasi ditulis oleh Ir.
Soekarno sendiri. Di ruang
depan, hadir B.M Diah Sayuti
Melik, Sukarni dan Soediro.
Sukarni mengusulkan agar yang
menandatangani teks proklamasi
itu adalah Ir. Soekarno dan Drs.
Moh. Hatta atas nama bangsa
Indonesia. Teks Proklamasi
Indonesia itu diketik oleh Sayuti
Melik. Pagi harinya, 17 Agustus
1945, di kediaman Soekarno,
Jalan Pegangsaan Timur 56 telah
hadir antara lain Soewirjo,
Wilopo, Gafar Pringgodigdo,
Tabrani dan Trimurti. Acara
dimulai pada pukul 10:00
dengan pembacaan proklamasi
oleh Soekarno dan disambung
pidato singkat tanpa teks.
Kemudian bendera Merah Putih,
yang telah dijahit oleh Ibu
Fatmawati, dikibarkan, disusul
dengan sambutan oleh Soewirjo,
wakil walikota Jakarta saat itu
dan Moewardi, pimpinan Barisan
Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta
untuk menaikkan bendera
namun ia menolak dengan
alasan pengerekan bendera
sebaiknya dilakukan oleh
seorang prajurit. Oleh sebab itu
ditunjuklah Latief Hendraningrat,
seorang prajurit PETA, dibantu
oleh Soehoed untuk tugas
tersebut. Seorang pemudi
muncul dari belakang membawa
nampan berisi bendera Merah
Putih ( Sang Saka Merah Putih),
yang dijahit oleh Fatmawati
beberapa hari sebelumnya.
Setelah bendera berkibar, hadirin
menyanyikan lagu Indonesia
Raya. Sampai saat ini, bendera
pusaka tersebut masih disimpan
di Museum Tugu Monumen
Nasional.
Setelah upacara selesai
berlangsung, kurang lebih 100
orang anggota Barisan Pelopor
yang dipimpin S.Brata datang
terburu-buru karena mereka
tidak mengetahui perubahan
tempat mendadak dari Ikada ke
Pegangsaan. Mereka menuntut
Soekarno mengulang pembacaan
Proklamasi, namun ditolak.
Akhirnya Hatta memberikan
amanat singkat kepada mereka.
Pada tanggal 18 Agustus 1945,
Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) mengambil
keputusan, mengesahkan dan
menetapkan Undang-Undang
Dasar (UUD) sebagai dasar
negara Republik Indonesia, yang
selanjutnya dikenal sebagai UUD
45. Dengan demikian
terbentuklah Pemerintahan
Negara Kesatuan Indonesia yang
berbentuk Republik (NKRI)
dengan kedaulatan di tangan
rakyat yang dilakukan
sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR)
yang akan dibentuk kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta
terpilih atas usul dari Oto
Iskandardinata dan persetujuan
dari PPKI sebagai presiden dan
wakil presiden Republik
Indonesia yang pertama.
Presiden dan wakil presiden
akan dibantu oleh sebuah Komite
Nasional.

Source: www.id.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar